MAROSINFO.COM,Turikale- Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, telah menyalurkan lebih dari 5 juta liter air bersih sejak awal Agustus 2026.
Hal ini dilakukan untuk membantu warga terdampak kekeringan di Kabupaten Maros.
Kepala BPBD Maros, Towadeng, mengatakan penyaluran air bersih masih terus dilakukan hingga pertengahan Oktober 2026.
Hingga saat ini, kekeringan telah melanda 12 dari 14 kecamatan di Kabupaten Maros.
“Sudah 12 kecamatan yang terdampak. Bulan lalu masih 11 kecamatan, sekarang bertambah menjadi 12 kecamatan,” katanya.
Dua kecamatan yang belum mengajukan penyaluran air bersih yakni Mallawa dan Camba.
Sementara itu, 12 kecamatan lainnya telah menyampaikan surat permohonan distribusi air bersih kepada BPBD Maros.
Jumlah warga yang terdampak kekeringan saat ini telah mencapai lebih dari 300.000 jiwa.
Mantan Kepala Sekretaris DPRD Maros itu mengatakan penyaluran air bersih dilakukan dengan melibatkan sejumlah pihak untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
Selain BPBD, bantuan air bersih juga disalurkan oleh Pertamina, pelaku UMKM, Palang Merah Indonesia (PMI), PDAM, serta sejumlah lembaga lainnya.
Khusus dari BPBD Maros, distribusi air bersih saat ini mencapai 30 tangki per hari.
Setiap mobil tangki mengangkut sekitar 5.000 liter air bersih.
Dengan demikian, BPBD menyalurkan sekitar 150.000 liter air setiap hari.
Distribusi dibagi untuk wilayah pesisir serta kawasan perumahan dan perkotaan.
Untuk wilayah pesisir, BPBD menyiapkan sembilan tangki air bersih setiap hari khusus untuk Bontoa.
Wilayah pesisir lainnya juga menjadi prioritas penyaluran karena warga semakin kesulitan mendapatkan air bersih.
“Warga di sejumlah wilayah pesisir tidak hanya kesulitan memperoleh air, tetapi juga menghadapi keterbatasan pasokan dari pedagang air bersih,” bebernyq.
Ia menyebut, pedagang air cenderung melayani wilayah yang lebih dekat karena biaya operasionalnya lebih rendah.
“Kondisi tersebut membuat distribusi air bersih dari pemerintah menjadi penting untuk membantu memenuhi kebutuhan dasar warga,” sebutnya.
Berdasarkan informasi BMKG yang disampaikan dalam rapat koordinasi di Kantor Gubernur Sulawesi Selatan, hujan di Kabupaten Maros diperkirakan mulai turun pada pertengahan Desember 2026.
Karena itu, BPBD Maros tetap menyiapkan penyaluran air bersih hingga kebutuhan masyarakat benar-benar terpenuhi.
Towadeng mengatakan hal tersebut sesuai arahan Bupati Maros agar distribusi air tidak dihentikan selama warga masih membutuhkan pasokan air bersih.
Hingga kini, pihaknya telah menggunakan Rp300 juta dari Belanja Tidak Terduga (BTT) yang dialokasikan pemerintah daerah untuk penanganan kekeringan.
Ia mengatakan Bupati Maros juga membuka peluang penambahan anggaran apabila kebutuhan di lapangan meningkat.
“Kalau memang diperlukan, kami tetap bisa mengajukan permohonan penambahan anggaran sesuai kebutuhan riil di lapangan,” ujarnya.
Warga Kecamatan Marusu, Raiah, mengaku sangat terbantu dengan adanya bantuan air bersih dari pemerintah.
Tanpa bantuan tersebut, warga setempat biasanya hanya mengandalkan air empang yang berwarna kehijauan, berbau, bahkan terasa asin.
“Di sini susah air bersih, hanya pakai air empang yang berbau dan asin,” ujar Raiah.
Meski tidak layak konsumsi, warga tetap menggunakannya untuk mencuci dan mandi.
Untuk memasak dan minum, mereka terpaksa membeli air bersih dengan harga cukup mahal.
“Kalau untuk minum, kami beli air tangki Rp100 ribu. Kalau tidak ada uang, terpaksa dicampur dengan sedikit air bersih yang ada. Air hujan yang biasanya ditampung juga sudah habis. Sementara PDAM tidak mampu menyalurkan air ke wilayah kami,” tambahnya.
