Pemilik Industri Tahu di Maros Keluhkan Harga Kedelai

Tahu Maros

Pemilik industri tahu di Kabupaten Maros, mengeluhkan naiknya harga kedelai.

Harga kedelai mencapai Rp 10 ribu perkilo, menurut pengusaha terlalu memberatkan mereka.

Mereka pun berharap, agar harga kedelai bisa kembali normal seperti biasa.

Kenaikan harga kedelai ini telah terjadi sejak dua pekan lalu.

Pemilik pabrik tahu di Maros, Rudi mengatakan, sebelumnya harga kedelai itu mereka peroleh sekitar Rp7 ribu sampai Rp8 ribu perkilogram.

“Harga kedelai saat ini Rp10 ribu perkilo, padahal biasanya hanya dikisaran Rp 7 sampai Rp 8 ribu per kilo. Kenaikan harga ini terlalu memberatkan. Kami harap harga bisa kembali normal seperti dulu,” ujar Rudi di pabrik pembuatan tahu, di bantaran sungai Maros, Sabtu (9/1/2021).

Ia mengaku, untuk mensiasati produksi tahu ini, pihaknya terpaksa harus mengurangi ukuran tahu yang dijual.

Hal ini untuk menjaga harga tahu tetap sama di pasaran. Meski ada kenaikan harga kedelai, Rudi sama sekali tidak mengurangi kualitas tahunya.

Untuk produksi tahu sendiri, Rudi menyebut, pihaknya bisa memproduksi sekitar 6 sampai 7 karung perhari.

“Kalau harga tetap sama, hanya saja ukurannya diperkecil. Kami juga tidak berani mengurangi penggunaan kedelainya, karena takut kualitasnya kurang bagus,” jelasnya

Sementara itu, salah satu warga Maros, Ari mengatakan, sebagai konsumen, naiknya harga tahu dan tempe tetap memberatkanya mereka.

Dia tetap berharap pemerintah mampu menekan dan mengontrol kembali harga kedelai.

“Kalau kami sebagai konsumen, mau tidak mau tetap membeli, karena memang ini kebutuhan,” terangnya

Tapi kami tetap berharap supaya pemerintah bisa menekan harga kedelai. Karena bukan cuma konsumen yang diberatkan, tapi pengusaha tempe dan tahu juga pasti berat,” tutupnya. (*)