
Plt Kepala Dinas Kesehatan Maros, Muhammad Yunus, memanfaatkan momentum Hari Kesehatan Nasional ke-57 untuk mengajak masyarakat berkontribusi.
Menurutnya, kontribusi yang diharapkan negeri saat ini adalah kerelaan untuk ikut vaksinasi Covid-19.
Apalagi di Maros, capaiannya masih cukup rendah. Makanya PPKM-nya dinaikkan lagi menjadi level 3.
“Hal yang perlu dibenahi dari segi kesehatan di Kabupaten Maros saat ini, paling utama adalah vaksinasi,” katanya, Jumat 12 November 2021.
Capaian vaksin di Maros baru berkisar 34 persen. Butuh di atas 16 persen lagi untuk keluar dari PPKM level 3 dan 36 persen lagi untuk mencapai angka ideal herd immunity.
Kendala yang dihadapi selama proses vaksinasi adalah minat masyarakat yang semakin surut.
“Dalam pelaksanaan vaksin harus dipersiapkan tiga hal, yakni logistik vaksin, vaksinator, dan sasaran. Sayangnya di Kabupaten Maros, saat ini antusias masyarakat mengikuti vaksinasi mulai berkurang,” lanjutnya.
Ia mengimbau masyarakat segera melakukan vaksinasi. “Mohon segera vaksin. Ini untuk menjaga kekebalan tubuh menghindari adanya gelombang ketiga Covid-19,” ungkap mantan Kepala Puskemas Bantimurung Maros ini.
– Sejarah peringatan Hari Kesehatan Nasional (HKN)
Hari Kesehatan Nasional (HKN) diperingati setiap 12 November. Peringatan tahunan ini terus diselenggarakan dengan berbagai tema yang sesuai dengan kondisi kesehatan Tanah Air.
Pada tahun ini, peringatan HKN ke-57 mengusung tema “Sehat Negeriku Tumbuh Indonesiaku”.
Dikutip dari Kemkes.go.id, pada era tahun 50-an, penyakit malaria merupakan penyakit yang banyak diderita masyarakat Indonesia.
Ratusan ribu jiwa terenggut akibat malaria. Oleh karena itu, pemerintah berupaya melakukan pemberantasan malaria atau malaria eradication di seluruh penjuru Tanah Air.
Untuk mencapai hal tersebut, pada 1959 dibentuklah Dinas Pembasmian Malaria yang di bulan Januari 1963 berubah menjadi Komando Operasi Pemberantasan Malaria (KOPEM).
Pembasmian malaria tersebut dilakukan menggunakan insektisida Dichloro Diphenyl Trichloroethane (DDT) yang disemprotkan secara massal ke rumah-rumah di seluruh Jawa, Bali, dan Lampung.
Penyemprotan secara simbolis dilakukan oleh Presiden Soekarno pada 12 November 1959 di Desa Kalasan, Yogyakarta.
Kegiatan penyemprotan DDT juga dibarengi kegiatan pendidikan kesehatan atau penyuluhan kepada masyarakat.
Lima tahun kemudian, kurang lebih 63 juta penduduk telah mendapat perlindungan dari penyakit malaria.
Setelah itu, pada 12 November 1964, keberhasilan pemberantasan malaria tersebut diperingati sebagai Hari Kesehatan Nasional (HKN) yang pertama. (*)
