Tim Disbudpar Maros Kaji Situs Prasejarah Liang Panning

Disbudar Maros

Tim Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Maros, melakukan pemantauan ke situs cagar budaya, Liang Panning di Dusun Langi’ Desa Wannuawaru, Kecamatan Mallawa, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan.

Saat meninjau lokasi situs prasejarah liang Panning, pada awal pekan lalu, Tim Disbudpar Maros yang dipimpin Tenaga Ahli Cagar Budaya, Yusriadi Arief bersama pihak Desa Wannuawaru rencananya akan melakukan pengembangan sebagai objek wisata situs cagar budaya dengan peringkat Kabupaten.

Tenaga Ahli Cagar Budaya (TACB) Disbudpar Maros, Yusriadi Arief mengatakan, sejarah penemuan Liang Panning ini sudah dikenal oleh masyarakat Mallawa sejak masa penjajahan.

“Sejarah penemuan Liang Panning ini sejak masa penjajahan kolonial, gua ini sudah dikenal oleh masyarakat Mallawa dan sekitarnya,” jelas Yusriadi.

Meskipun sudah dikenal luas oleh masyarakat Mallawa, namun khusus untuk kegiatan penelitian baru dimulai pada awal 90-an.

“Penelitian ini dilakukan oleh balai pelestarian cagar budaya begitupun dengan balai arkeologi. Temuan-temuan arkeologis yang ditemukan di gua ini mengindikasikan gua ini telah dihuni oleh manusia prasejarah sejak 7.000 tahun yang lalu,” ujar Yusriadi Arief.

Ada beberapa indikasi lain yang menguatkan Liang Panning ini pernah dihuni oleh manusia prasejarah setelah ditemukannya peninggalan budaya.

“Berberapa indikasi lain yang menguatkan gua ini pernah dihuni itu dengan adanya peninggalan budaya berupa alat batu, juga sisa sisa makanan berupa cangkang kerang atau molusca,” kata Yusriadi

Selain itu, situs Liang Panning ini menjadi penting khususnya untuk mempelajari bagaimana interaksi manusia di masa prasejarah dengan adanya kontak dua kebudayaan antara budaya Toala dengan manusia yang menggunakan bahasa Astronesia.

Potensi yang penting juga hasil penelitian di Liang ini ditemukan kerangka manusia yang telah berumur 4.000 tahun yang lalu.

Sementara oleh Pemerintah Daerah dalam hal ini Disbudpar di tahun 2019 berdasarkan potensi yang dimiliki oleh keputusan bupati ditetapkan menjadii situs cagar budaya dengan peringkat kabupaten. (*)