Kisah Kepahlawanan Maros: Baddare Dg Situru dan M Gazali Guru yang Bergerilya di Hutan

Menyambut perayaan HUT ke-75 Kemerdekaan Republik Indonesia (RI), yang diperingati setiap 17 Agustus, hari ini, sebagai penghormatan kepada para pejuang Kemerdekaan, dipaparkan kisah kepahlawanan Maros.

Kisah Kepahlawanan Maros: Baddare Dg Situru dan M Gazali Lepas Status Guru Pilih Bergerilya di Hutan

Kali ini jejak sosok dua orang guru, Baddare Dg Situru dan M Gazali, yang namanya diabadikan menjadi nama jalan di kota Maros.

Kekalahan dari Jepang dalam Perang Asia Timur Raya menyebabkan Belanda harus meninggalkan Indonesia pada tahun 1942.

Setelah itu, Indonesia dijajah oleh Jepang hingga pada 17 Agustus 1945, hingga Indonesia menyatakan Kemerdekaan, setelah ratusan tahun dijajah Belanda.

Pada 23 Agustus 1945, pasukan Sekutu dan NICA (Nederlandsch Indiƫ Civiele Administratie) atau Pemerintahan Sipil Hindia Belanda mendarat di Sabang Aceh dan tiba di pelabuhan Tanjung Priok Jakarta pada 15 September 1945.

Sekutu memang mengakui dua otoritas yang berkuasa di Indonesia, yakni pihak Republik dan pihak Belanda.

Selain membantu Sekutu untuk melucuti tentara Jepang yang tersisa, NICA di bawah pimpinan Van Mook atas perintah Kerajaan Belanda membawa kepentingan lain, yaitu menjalankan pidato Ratu Wilhelmina terkait konsepsi kenegaraan di Indonesia.

Pidato pada 6 Desember 1942 melalui siaran radio menyebutkan bahwa di kemudian hari akan dibentuk sebuah persemakmuran antara Kerajaan Belanda dan Hindia (Indonesia) di bawah naungan Kerajaan Belanda.

Kemudian pada 21 September 1945, tentara Sekutu mendarat di Makassar di bawah komando Brigadir I Dougherty.

Kedok NICA juga terbaca hingga di Sulsel. Semangat membentuk badan perjuangan terjadi di mana-mana, termasuk di Maros, daerah yang berada di Sulawesi Selatan (30 km dari kota Makassar).

Keinginan Belanda melalui Sekutu untuk kembali menguasai wilayah negara Indonesia tersebut, membuat dua sosok pejuang Maros, Baddare Daeng Situru dan M Gazali terpanggil membela negara dan tanah airnya.

Meski kurang populer di Sulsel, namun peran Baddare Daeng Situru dan M Gazali sangat penting dalam era perjuangan kemerdekaan RI.

Mereka berasal dari satu wilayah di Maros, yakni Camba. Keduanya yang merupakan guru dan tokoh Muhammadiyah di Camba ini akhirnya menjadi komandan pasukan KRIS muda di Camba dan memilih berjuang keluar-masuk hutan.

Pada akhir September 1945, atas inisiatif Ratulangi dan Manai Sofyan (Ketua PPNI atau Pusat Pemuda Nasional Indonesia) dibentuklah TRIP (Tentara Republik Indonesia Pelajar ) dan PMP yang dipimpin Baddare Daeng Situru yang bergabung dengan TRIP bersama M Gazali.

Pada Juni 1946, kekuatan militer dan senjata pasukan pegunungan Camba lebih kuat dari Maros. Pemuda-pemuda dilatih militer khusus di Toolu Sawaru Camba.

Kemudian terjadi pelucutan senjata dari Karaeng/Kepala Distrik yang dianggap membantu NICA di Lebbo Tengngae yang dipimpin langsung Baddare Daeng Situru dan M Gazali dibantu oleh Abdul Hamid K, Mannawi, Abdul Wahid Kolaka, Andi Palinrungi dan Salam Rukka.

Adapun kekuatan senjata Camba tak lepas dari peran M Gazali atau dikenal dengan tuan guru Mangga/Manggazali.

Olehnya di Maros saat itu dua strategi dilakukan, yaitu pasukan Camba dengan kekuatan militernya berjuang lewat kontak senjata. Sedangkan pasukan Maros menjalankan strategi sabotase, misalnya pembakaran pasar malam oleh Andi Nurdin Sanrima bersama kawan-kawan pejuang lainnya.

Selanjutnya, diketahui banyak organisasi pejuang yang hadir saat itu, di antaranya terbentuk KRIS muda Mandar di Maros/Camba, dengan tokoh KRIS muda adalah Nurdin Djohan, Baddare Daeng Situru dan M Gazali.

Dari markas mereka akhirnya bergabung pasukan dari Andi Mappe (tokoh pejuang Pangkep). Dalam penyamarannya ke Makassar, Nurdin Djohan tertangkap Belanda.

NICA yang saat itu merasa jengkel terhadap para pejuang Maros akhirnya menangkap istri Baddare Daeng Situru, istri M Gazali, dan istri pejuang-pejuang lainnya.

Akhirnya, pada awal Maret 1950, Baddare Daeng Situru, M Gazali dan beberapa pejuang lainnya ditangkap oleh Belanda. Perjuangan mereka pun ini pun berakhir (1945 -1950). (*)

* Disarikan dari Wikipedia https://id.wikipedia.org/wiki/Baddare_Situru

Selanjutnya

HUT ke-75 RI: Bupati Maros Ajak Warga Bahu-Membahu Melawan Pandemi Covid-19

Sen Agu 17 , 2020
Upacara Hari Ulang Tahun (HUT) ke-75 Republik Indonesia (RI) di Kabupaten Maros, berlangsung pada pukul 08.00 Wita. Berbeda dengan tahun sebelumnya, kali ini hanya tiga anggota Pasukan Pengibar Bendera (Paskibra) yang bertugas. Tahun sebelumnya terdiri dari pasukan 17, 8 dan 45. Hal ini dilakukan untuk menerapkan protokol kesehatan di tengah […]
HUT ke-75 RI: Bupati Maros Ajak Warga Bahu-Membahu Melawan Pandemi Covid-19