Ibu-ibu di Tanralili Maros Produksi Kain Batik Nuansa Alam dan Aksesori Kekinian

Sejumlah ibu rumah tangga di Kecamatan Tanralili Kabupaten Maros, memproduksi kain batik bernuansa alam.

Ibu-ibu di Tanralili Maros Produksi Kain Batik Nuansa Alam dan Aksesori Kekinian
Produksi kain batik ini merupakan program strategis dari Desa Sudirman melalui Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) untuk meningkatkan taraf ekonomi masyarakat minim penghasilan. Apalagi di masa pandemi wabah Covid-19 seperti saat ini.

Kepala Desa Sudirman, Lenni Marlina mengatakan, dana desa yang diperoleh setiap tahunnya telah berhasil memandirikan ibu rumah tangga (IRT) dalam membantu perekonomian keluarga.

“Mereka memiliki keterampilan, makanya kami memberikan wadah yang disokong dari dana desa. Bumdes mempekerjakan para ibu rumah tangga untuk membantu perekonomian keluarganya, Alhamdulillah sekarang mereka mulai memiliki penghasilan sendiri,” ujarnya, Jumat (17/7/2020).

Saat ini terdapat 15 orang ibu rumah tangga yang telah bekerja di Bumdes Bina Aril, mereka setiap harinya memproduksi kain batik corak khusus bermotif alam.

“Batik yang kami hasilkan bertema alam. Limbah daun kita manfaatkan sebagai corak, sementara beberapa pohon seperti kayu mahoni kami rebus selama 8 jam untuk selanjutnya digunakan sebagai pewarna alami dari ekstrak tumbuhan, semuanya alami tanpa bahan kimia.” ungkapnya.

Untuk proses produksi kain batik bernuansa alam, ibu rumah tangga di Desa Sudirman membutuhkan waktu selama seminggu, karena proses membatik harus membutuhkan ketelitian khusus agar hasil yang didapatkan bisa berkualitas.

“Sekali memproduksi kami membutuhkan waktu selama kurang lebih seminggu, karena kita harus menyediakan bahan terlebih dulu, kainnya juga kita pesan secara khusus seperti kain sutera, ketelitian pun menjadi yang utama agar hasilnya bisa bersaing dipasaran,” paparnya.

Hasil dari produksi kain batik bernuansa alam ini kemudian diolah menjadi pakaian atau berbagai aksesori kekinian seperti kemeja batik, tas wanita, sarung dan aksesori lainnya.

Harganya pun bervariasi mulai dari Rp 50 ribu sampai dengan yang termahal Rp 800 ribu, tergantung kain yang digunakan.

“Hasil kerajinan batik ibu-ibu di sini kita buat menjadi aksesoris kekinian yang lebih bernilai ekonomis seperti baju batik, kemeja batik, tas wanita, sepatu, dompet, jilbab dan aksesoris lainnya, harganya pun bervariasi tergantung kain yang digunakan, paling mahal bila bahan utamanya menggunakan kain sutera,” jelasnya. (*)

Selanjutnya

Hari Ini Ada 23 Tambahan Konfirmasi Positif Covid di Maros, Tetap Waspada!

Jum Jul 17 , 2020
Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Kabupaten Maros melakukan update data Covid-19 hingga hari ini, Jumat (17/7/2020). Juru Bicara Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Maros, dr Syarifuddin mengatakan, berdasarkan update data, ada 23 orang dinyatakan konfirmasi positif Covid-19. Sebanyak 19 pasien berasal dari Kecamatan Mandai, 2 pasien dari Moncongloe, masing-masing 1 pasien dari […]
Informasi Terbaru Covid Maros: Hari Ini Ada 23 Tambahan Konfirmasi Positif!