Dokter Asal Maros Sendirian Tangani 190 Pasien Covid di Hotel Namun Belum Terima Insentif

Seorang dokter di Sulsel menceritakan kesedihannya bertugas menangani pasien Covid-19. Dia dikirim dari Maros untuk menangani ratusan pasien Covid-19 di Hotel Harper Makassar.

Pengakuan Dokter Asal Maros Tangani 190 Pasien Covid Sulsel Namun Belum Terima Insentif
Namun dia tak kunjung menerima insentif yang dijanjikan. Dia adalah dokter di puskesmas di Maros.

“Yang membuat saya kecewa bukan hanya soal uang harian yang dijanjikan Rp 200 ribu per hari. Tapi juga soal penugasan saya seorang diri di sini. Bayangkan, saya sendirian dokter bersama 3 perawat menangani 190 pasien,” ungkap dr Sugih Wb kepada wartawan, Rabu (1/7/2020).

Dia mengaku awalnya dirinya yang mengajukan diri untuk membantu menangani pasien Covid-19 yang menjalani isolasi di hotel di Makassar.

Namun dia tak menyangka dirinya satu-satunya dokter di Hotel Harper Makassar.

“Kalau mau hitung-hitungan, jelas itu tidak sebanding. Tapi awalnya memang saya merasa terpanggil sebagai dokter. Jadi sayalah yang mengajukan diri untuk ditugaskan ke sana. Padahal inikan jelas berisiko. Saya harus selalu standby 24 jam, karena saya satu-satunya dokter di hotel. Mereka OTG, tapi banyak dari mereka yang stres, ada yang mau bunuh diri, ada yang keguguran, macam-macam. Itu semua harus ditangani oleh saya,” jelasnya.

Dia mengaku terbiasa bekerja 24 jam dan terjun ke lokasi bencana, namun kali ini dia merasa dikorbankan.

Dia menjelaskan, di hotel lainnya, yang juga difungsikan sebagai tempat karantina pasien Covid, jumlah dokter bisa mencapai 3 orang. Sehingga tiap dokter berjaga dengan sistem shift.

“Itu yang buat saya tidak habis pikir. Padahal banyak dokter. Ini seolah saya dikorbankan, karena mereka bilang takut kalau ada kluster baru. Di hotel lain dokternya bisa sampai 3 orang dan shift-shift-an loh,” tambahnya.

Selain kecewa, pria 37 tahun itu menceritakan dirinya terkadang hanya bisa meneteskan air mata saat menahan rindu kepada istri dan putranya yang berumur 3 bulan.

Selama ditugaskan di hotel, dia mengaku hanya bertemu beberapa jam saja dengan keluarga kecilnya.

“Saya ini punya bayi, kalau saya rindu, terkadang saya hanya bisa menangis. Bercampur semua rasa kecewa itu, tapi saya harus tetap profesional. Di hadapan pasien, kami semua petugas medis tetap terlihat tegar. Padahal, kami ini jujur sudah sangat capek,” ungkapnya.

Dia menuturkan, dirinya makin sedih saat sang istri mnenanyakan uang belanja. Dia yang belum menerima insentif hanya dapat meminta istrinya bersabar.

Dia sudah mendapatkan 3 kali Surat Tugas dari Dinkes Maros yang ditunjuk sebagai penanggung jawab di Hotel Harper Makassar oleh Dinas Kesehatan Provinsi Sulsel, sejak bertugas pada 25 Mei 2020.

Dia berharap agar Dinkes tidak memperpanjang masa tugasnya di hotel lagi.

“Saya harap, surat tugas saya yang keempat tidak ada lagi. Karena jujur, saya sudah sangat jenuh karena banyak hal yang dari awal tidak sesuai yang dijanjikan,” pungkasnya.

Sementara itu, pihak terkait belum memberikan keterangan perihal insentif tenaga kesehatan tersebut. (*)

Selanjutnya

BBVet Maros Jelaskan Tentang Rapid dan PCR untuk Tes Covid

Kam Jul 2 , 2020
Pemerintah Indonesia terus berupaya untuk dapat menangani pandemi Covid-19 serta mencegah penyebaran penyakit yang disebabkan oleh virus SARS-CoV-2. Berbagai kebijakan dan imbauan telah dilaksanakan dan disosialisasikan sebagai upaya untuk memutus rantai hidup virus tersebut. Namun kebijakan dan imbauan saja belum cukup. Pengujian Covid-19 terhadap masyarakat juga sudah gencar dilakukan. Terutama […]
Penjelasan BBVet Maros Tentang Rapid dan PCR untuk Tes Covid