Petani Maros Mengeluh Pupuk Subsidi Alami Kelangkaan

Sejumlah petani di Kabupaten Maros mengeluh dikarenakan kelangkaan pupuk bersubsidi. Banyak dari mereka terpaksa menunda memupuk padi, meski masa usia padi sudah lebih dari 20 hari tanam.

Petani Maros Mengeluh Pupuk Subsidi Alami Kelangkaan
Seperti yang dialami oleh petani di Desa Mattirotasi Kecamatan Maros Baru yang mengaku, kelangkaan pupuk itu terjadi hampir setiap tahun saat musim tanam.

Anehnya, pupuk bersubsidi justru banyak keluar saat mereka sudah tidak membutuhkan.

“Ini padi saya sudah lebih dari 20 hari. Tapi belum dipupuk karena tidak ada pupuk subsidi. Ini terjadi hampir tiap tahun,” ujar seorang petani, Idris, melalui media, Ahad (21/6/2020).

Pupuk subsidi yang dimaksud adalah pupuk jenis urea dan SP-36. Bagi petani, kedua jenis pupuk inilah yang kerap digunakan.

Hanya saja, banyak anggota kelompok tani yang tidak mendapatkan jatah.

“Kalau biasanya itu ada satu jenis saja. Misalnya urea, kita terpaksa campur dengan pupuk non subsidi yang harganya lebih mahal. Sekarang ini memang dua-duanya tidak ada. Padahal sudah waktunya pemakaian,” jelasnya.

Kalaupun ada, harga pupuk subsidi itu juga sudah mahal. Untuk jenis urea yang harganya hanya Rp 90 ribu dan SP-36 yang harganya Rp 100 ribu, naik hingga Rp 20 ribuan setiap jenisnya.

Meski begitu, petani terpaksa membeli karena mereka tidak punya pilihan lain.

“Misalnya ada kita dapat, itu harganya sudah beda dari biasanya. Terpaksa kita beli, apa lagi kalau musim tanam kedua begini, harus cepat karena air ditakutkan akan habis,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala dinas Pertanian Maros, Alfian Amri tak menampik terkait kelangkaan pupuk itu.

Dia mengaku, kebutuhan pupuk subsidi di Maros mencapai 14 ribu untuk jenis urea, namun kuotanya hanya 7 ribu ton saja dari pusat.

Bahkan ia sudah meminta penambahan kuota, namun hingga saat ini belum terealisasi.

“Memang hampir tiap tahun bermasalah, karena kuota kita hanya 7 ribu ton. Sementara estimasi kebutuhan kita itu sebanyak 14 ribu. Jadi yang tersedia setengahnya saja, kita juga sudah bersurat meminta penambahan, tapi belum direalisasi,” ungkapnya.

Untuk penggunaan pupuk bersubsidi di lahan tambak, Alfian mengaku, jika hal itu tidak dilarang karena memang dalam Peraturan Menteri Pertanian juga telah diatur.

“Di dalam Permentan nomor 10, memang penggunaan pupuk bersubsidi untuk tambak itu diperbolehkan, jadi tidak masalah. Tapi memang ini masalah kebutuhan tidak sesuai dengan kouta yang ada,” bebernya. (*)

Selanjutnya

Harga Bawang dan Gula Pasir Turun di Pasara BSM Maros

Ming Jun 21 , 2020
Sejumlah kebutuhan pokok di Pasar Rakyat Butta Salewangang Maros atau Pasara BSM turun harga. Pasara BSM atau dikenal juga dengan nama Pasar Tramo Maros. Harga bahan pokok yang mengalami penurunan, yaitu bawang merah, bawang putih dan gula pasir. Seorang pedangan Ismail mengatakan,  bawang merah yang sebelumnya seharga Rp 60 ribu […]
Harga Bahan Pokok Turun di Pasar Rakyat Butta Salewangang Maros