Firman Anak Yatim Penjual Jalangkote Maros Dapat Jaminan Pendidikan dari Suhartina Bohari

Video bullying yang dialami anak penjual jalangkote di Pangkep, Risal, yang viral beberapa hari lalu, sepertinya berdampak bagi penjual jalangkote lainnya.

Firman Anak Yatim Penjual Jalangkote Maros

Bukan hanya Risal yang mengalami bullying, namun penjual jalangkote di Maros, Firman juga sering mengalami hal serupa. Hal itu menyita perhatian sejumlah pihak.

Firman, 14 tahun, anak yatim penjual jalangkote di Maros mendapat perhatian dari tokoh perempuan Maros, Hj Suhartina Bohari, yang juga Ketua Yayasan Pondok Pesantren Hj Haniah Maros.

Hj Suhartina mendatangi kediaman Firman di Jalan Inspeksi Saluran Air Maros, Jumat kemarin.

Setelah berbincang dengan ibu Firman, Marlina, diketahui Firman ternyata putus sekolah sejak tahun lalu karena keterbatasan biaya, termasuk untuk membeli baju sekolah, alat tulis dan biaya pendidikan lainnya.

Bukan hanya Firman, adiknya, Lasinrang, 7 tahun juga ikut putus sekolah di kelas 4 SD. Sehingga, Firman dan adiknya memilih fokus membantu perekonomian keluarga dengan menjajakan keliling jalangkote.

Saat ditawari oleh Hj Tina, sapaan akrab Hj Suhartina Bohari, untuk masuk di Pondok Pesantren Hj Haniah Maros, Firman anak ke .. dari 8 bersaudara ini dengan berat hati menolak, dia beralasan tetap ingin membantu orang tuanya.

“Bu Hj Tina menawarkan saya masuk pesantrennya dan semua jadi tanggungannya, tapi saya bukannya tidak mau belajar di pesantren, banyak teman saya yang belajar di sana, tapi saya tetap mau jualan jalangkote, mau membantu ibu saya,” kata Firman kepada wartawan, Sabtu (23/5/2020).

Firman memilih jika bisa masuk SMP yang ada di sekitar kota Maros sehingga bisa tetap tinggal bersama ibu dan saudaranya.

Mendengar alasan tersebut, Hj Tina langsung mengangkat Firman sebagai anak asuhnya dan bersedia menanggung segala biaya pendidikannya di sekolah manapun yang dia inginkan.

“Soal biaya sekolah, buku, baju seragam, alat tulis menulis dan semua perlengkapan sekolah saya yang tanggung, syaratnya harus berprestasi, target pertama nanti harus masuk 10 besar di kelas,” ungkapnya, sambil tertawa untuk memotivasi Firman.

Hj Tina juga menunggu adik Firman, Lasinrang untuk ikut melanjutkan pendidikannya yang terputus di bangku SD.

“Persoalan pendidikan bagi anak-anak harus diutamakan dan adik Firman yang juga putus sekolah di kelas 4 SD harus dimotivasi supaya mau lanjut sekolah, jangan sampai nanti di belakang hari kemudian menyesal,” ucap Hj Tina kepada Marlina, Ibu Firman.

Marlina mengucapkan terima kasih atas kepedulian Hj Tina yang ingin melihat masa depan anaknya tetap cemerlang. Dia berjanji akan memotivasi adik Firman agar ikut bersekolah seperti kakaknya.

Untuk diketahuu, sehari-harinya, Firman berjualan jalangkote di area sekitar kota Maros dengan berjalan kaki. Firman dengan suara khasnya yang melengking saat menjajakan jalangkote juga sangat dikenal di antara pengunjung warkop di sekitar kawasan kuliner PTB Maros.

Sepeninggal ayah kandungnya yang meninggal dunia 3 tahun lalu, Firman mulai tidak fokus belajar karena harus membantu keluarga dengan berjualan jalangkote hingga malam.

Setamat SD tahun 2019 lalu, cita-citanya menjadi Polisi harus kandas terkendala persoalan biaya karena tidak mampu membeli baju seragam sekolah, hingga akhirnya putus sekolah. (*)