BBKSDA Sulsel Lepasliar Satwa ke Hutan Karaenta Maros

Di masa pandemi Covid-19, Tim Wildlife Rescue Unit (WRU) Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan bersama petugas Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, melakukan lepasliar satwa liar ke alam.

BBKSDA Sulsel Lepasliar Satwa ke Hutan Karaenta Maros

Satwa-satwa dilepas di kawasan Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, yakni di Hutan Karaenta Maros dan di Minasa Te’ne Pangkep, melalui media, Jumat (22/5/2020).

Kegiatan ini tetap mengikuti standar pencegahan penyebaran Covid-19.

Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Sulsel, Thomas Nifinluri mengatakan, pemasalahan dan ancaman terhadap berbagai jenis satwa liar tidak hanya menjadi ancaman penurunan populasi dan aspek ekologi sebuah kawasan.

“Namun secara tidak langsung menyebabkan menurunnya tingkat apresiasi masyarakat terhadap satwa, tanpa melihat dan memperhatikan nilai dan peran penting satwa liar di alam sebagai pengatur keseimbangan ekosistem,” ujarnya, Jumat (22/5/2020).

Menurutnya, rendahnya tingkat reproduksi satwa liar serta tingginya tingkat perburuan liar menjadi faktor utama penurunan populasi satwa liar di alam.

“Pelepasliaran satwa liar bertujuan untuk menstabilkan populasi satwa liar di alam dan juga sebagai bentuk pernyataan politis dan pendidikan yang kuat terhadap kesejahteraan satwa liar dan promosi nilai-nilai konservasi lokal,” jelasnya.

Satwa liar yang dilepaskan tersebut merupakan satwa dilindungi oleh pemerintah Indonesia dan keberadaannya di alam diperlukan sebagai pengatur ekosistem kawasan konservasi.

“Sebagai upaya konservasi satwa liar adalah melakukan rehabilitasi hasil sitaan dan serahan masyarakat untuk dilepasliarkan ke habitatnya dengan merujuk pada panduan IUCN dan ketentuan yang berlaku di Indonesia untuk pelepasliaran, reintorduksi dan translokas,” paparnya.

Kegiatan ini dilakukan setelah melalui pemeriksaan kesehatan dan kajian perilaku terhadap satwa tersebut selama proses rehabilitasi di Kandang Transit Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan dan satwa dinyatakan sehat.

“Observasi lebih lanjut dilakukan di kandang observasi untuk melihat perilaku harian, perilaku berburu dan makan, perilaku interaksi antar satwa,” tambahnya.

Tahap selanjutnya, sebelum dilakukan lepasliar dilakukan kajian terhadap atau lokasi pelepasliaran untuk mempertimbangkan aspek kesesuaian habitat, potensi pakan serta potensi ancaman dan gangguan terhadap satwa.

Tahap berikut yakni proses habituasi atau adaptasi terhadap lingkungan satwa yang baru dengan menempatkan dalam kandang habituasi selama sekitar 7-14 hari.

Setelah semua proses pemeriksaan kesehatan, perilaku atau observasi, rehabilitasi dan habitat dilakukan maka satwa siap untuk dilepasliarkan.

Kedua lokasi pelepasliaram merupakan areal Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung (TN Babul) di Kabupaten Maros dan Pangkep.

Program pelepasliaran satwa liar yang dilakukan terdiri dari 12 ekor dari lima jenis satwa. Rinciannya, Elang Tikus (Elanus caeruleus) sebanyak 5 ekor, Elang Bondol (Haliastur indus) sebanyak 2 ekor, Elang Paria (Milvus migrans) sebanyak 1 ekor dan Ular Sanca Kembang (Python reticulatus) sebanyak 3 ekor.

Selain itu, ada juga pelepasliaran satwa liar jenis Buaya Muara (Crocodylus porosus) sebanyak 1 ekor, yang telah dilakukan di muara Sungai Malili di Desa Ussu Kecamatan Malili Kabupaten Luwu Timur, yang merupakan kawasan hutan lindung, pada 15 Mei lalu.

“Dengan adanya pelepasliaran diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat akan nilai penting keberadaan satwa liar dan habitatnya bagi lingkungan dan kehidupan di masa yang akan datang dalam mengatur keseimbangan ekosistem sebuah kawasan,” pungkasnya.

Kegiatan ini sebagai bagian peringati Hari Keanekaragaman Hayati 22 Mei 2020 dan semangat Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei 2020. (*)

Selanjutnya

Lakalantas di Maros Alami Penurunan di Masa Pandemi

Jum Mei 22 , 2020
Angka kecelakaan lalu lintas (lakalantas) di Kabupaten Maros, mengalami penurunan selama masa pandemi coronavirus disease 2019 atau Covid19, yang disebabkan oleh novel coronavirus (n-Cov) yang mulai menyebar pada akhir tahun 2019. Polres Maros mencatat pada Januari 2020 angka lakalantas mencapai 12 kasus. Sementara bulan Februari 13 kasus, Maret 23 kasus […]
Lakalantas di Maros Alami Penurunan di Masa Pandemi