Pendapatan Maros dari Perizinan Alami Penurunan Hingga 70 Persen Akibat Wabah Covid-19

Pandemi Covid-19 tak hanya berdampak terhadap perekonomian masyarakat Maros, namun juga berdampak pada Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Maros.

PAD Maros
Kepala Dinas PM-PTSP Maros, Andi Rosman.

Bahkan penurunan PAD dari sektor perizinan sangat signifikan, penurunannya mencapai 50 hingga 70 persen.

Hal ini diakui oleh Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PM-PTSP) Maros, Andi Rosman.

“Kami mengelola PAD yang berasal dari dua jenis retribusi. yakni retribusi izin menara dan retribusi Izin Mendirikan Bangunan atau IMB,” ujarnya, Senin (27/4/2020).

Dia menjelaskan, hingga April ini pendapatan dari retribusi IMB, baru sekitar Rp 100 juta.

“Target kita per bulan Rp 750 juta untuk retribusi IMB, tapi sampai hari ini belum tercapai. Untuk April, baru Rp 100 juta,” jelasnya.

Dia menambahkan, pada Januari perolehan IMB mencapai Rp 900 juta dan selanjutnya pada Februari turun menjadi Rp 800 juta. Di bulan Maret turun ke Rp 600 juta dan sekarang baru Rp 100 juta.

Sedangkan terget retribusi izin menara sekitar Rp 300 juta, juga belum tercapai.

“Biasanya per bulan pemasukan dari izin menara antara Rp 30 hingga Rp 35 juta. Tapi bulan Maret hingga April belum masuk. Sementara bulan Januari sampai Februari hanya sekitar Rp 40 juta,” paparnya.

Dia menyebut, kemungkinan hal ini juga karena pengaruh Jakarta PSBB, sebab pembayaran menara biasanya langsung dilakukan dari kantor pusat operator telekomunikasi yang bersangkutan.

Dia mengatakan, secara keseluruhan PAD pada Maros PM-PTSP Maros ditargetkan sebesar Rp 7,8 miliar selama setahun, dari dua sumber retribusi tersebut.

“Sampai hari ini kami baru bisa peroleh sekitar Rp 2,5 miliar. Padahal tahun lalu di periode yang sama sudah mampu mengumpulkan sekitar Rp 4 miliar,” ungkapnya.

Menurutnya kondisi ini dipicu tidak adanya kegiatan di lapangan atau kegiatan dari masyarakat, sebab mereka diminta tinggal di rumah selama pandemi Covid-19.

“Untuk pelayanan, sekarang rata-rata pemohon hanya 10-20 orang per hari, padahal sebelum wabah Covid-19, biasanya ramai,” tutupnya. (*)